susi sushanti

"jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang ia bicarakan "

konsep diri individu Mei 12, 2012

Filed under: Uncategorized — susisusanti28 @ 3:41 am

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Pemahaman individu akan karakter dirinya sangatlah penting. Karena mengenali diri sendiri adalah poin yang sangat penting sebelum individu itu berinteraksi dari orang lain. Konsep diri atau yang biasa kita kenal dengan kemampuan untuk mengenali diri sendiri dibutuhkan seseorang agar ia bisa berinteraksi secara baik dengan orang lain, dengan pengonsepan diri yang baik maka seseorang akan mudah pula diterima di masyarakat apalagi dunia kerja. Konsep diri yang baik akan dapat membentuk kepribadian yang sehat serta dapat mengetahui perilaku orang lain yang terganggu jiwanya,

Mampu atau tidaknya seseorang mengenali dirinya termasuk ke dalam faktor psikologis yang dapat mempengaruhi sehat sakit mental seseorang. Selain itu stressor presipitasi yang muncul pun akan mempengaruhi sehat atau sakitnya mental seseorang. Maka untuk menemukan sumber pemecahan stres yang ia hadapi ia harus mengenali dirinya sendiri sehingga ia bisa melakukan penilaian terhadap stressor dan menemukan mekanisme koping yang baik.

            Maka, dari uraian diatas, dalam makalah ini akan dijabarkan kepribadian individu yang sehat, perilaku klien terhadap gangguan jiwanya, serta faktor predisposisi, stressor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber dan mekanisme koping.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana kepribadian yang sehat?
    2. Bagaimana perilaku seorang klien terhadap gangguan jiwa?
    3. Apa saja faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping?
    4. TUJUAN
      1. Mengetahui kepribadian yang sehat
      2. Mengetahui perilaku seorang klien terhadap gangguan jiwa
      3. faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan mekanisme koping?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Kepribadian yang Sehat (Healthy Personality)

Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya.

Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Menurut  konsep Suryomentaram kepribadian yang sehat yaitu seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat apabila seseorang mampu berinteraksi dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya dengan cara yang positif seperti tegar:

  • Kepribadian tegar

Seseorang yang terbebas dari belenggu penyesalan dan kekhawatiran yang berkepanjangan.

  • Optimis

Seseorang dalam menanggapi berbagai peristiwa kehidupannya lebih suka berpikir positif daripada berpikir negatif.

  • Berkemampuan

Seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan prestasi nya dalam berbagai kehidupan.

  • Empatik

Kemampuan untuk merasakan dan memikirkan kondisi dan pengalaman perasaan orang lain sebagaimana yang di hayati oleh orang lain.

7 Kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat:

  • Perluasan Perasaan Diri

Ketika orang menjadi dewasa, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut “partisipasi otentik”. Contoh nya yaitu sesorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya bukan hanya memperhatikan diri nya sendiri.

  • Relasi Sosial yang Hangat

Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Contohnya yaitu seseorang lebih peduli dengan orang lain dan untuk lebih bisa mengerti pada keadaan dan perasaan orang lain.

  • Keamanan Emosional

Kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut. Contohnya yaitu seseorang tetap berusaha walaupun ia sudah gagal,dan menjadikan sebuah kegagalan itu untuk pacuan semangat memeperbaikinya.

  • Persepsi Realistis

Orang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Seseorang lebih mementingkan yang menjadi prioritas mereka yang realisitis di banding mementingkan sesuatu yang bukan menjadi prioritas utama nya.

  • Keterampilan dan Tugas

Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Contohnya yaitu seseorang dapat memilah dan mendahulukan pekerjaan yang menurut nya penting serta menekuni nya dengan sebaik mungkin.

 

 

  • Pemahaman Diri

Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Contohnya yaitu seseorang berusaha untuk memahami dirinya sendiri melalui orang lain karena untuk memahami dirinya sendiri itu sulit.

  •  Filsafat Hidup

Orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Contohnya yaitu Seseorang menjalani hidupnya dengan melihat masa depan dan untuk masa depan nya,dan ia melakukan totalitas pekerjaan untuk jangka panjang kehidupan nya.

 

Seseorang dikatakan mempunyai kepribadian yang sehat yaitu jika seseorang tersebut tidak menderita kecemasan,depresi atau bentuk simtomatologi psikologi yang lain, dengan kata lain kepribadian sehat dapat di definisikan sebagai adanya aspek psikologis yang positif yang menentukan derajat kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan nya.

Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

  • Kepribadian yang sehat :
  1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik

      Mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.

  1. Mampu menilai situasi secara realistic

      Dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.

  1. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistic

      Dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.

  1. Dapat mengontrol emosi

      Merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)

  1. Menerima tanggung jawab

      Dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.

  1. Kemandirian

      Memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

  1. Berorientasi tujuan

      Dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.

  1. Berorientasi keluar (ekstrovert)

      Bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.

  1. Penerimaan social

      Mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.

  1. Memiliki filsafat hidup

      Mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berasal dari keyakinan agama yang dianutnya.

  1. Berbahagia

      Situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)

 

  • Kepribadian yang tidak sehat :
  1. Mudah marah (tersinggung).
  2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan.
  3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi).
  4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang.
  5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum.
  6. Kebiasaan berbohong.
  7. Hiperaktif.
  8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas.
  9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
  10. Sulit tidur
  11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

 

  1. B.     Perilaku Klien dengan Gangguan Konsep Diri

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendah (Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu identitas kacau dan depersonalisasi dapat dilihat pada tabel berikut. 

  1. Perilaku Dengan Harga Diri Yang Rendah
  • Mengkritik diri sendiri atau orang lain
  • Produktifitas menurun
  • Destruktif pada orang lain
  • Gangguan berhubungan
  • Merasa diri lebih penting
  • Merasa tidak layak
  • Rasa bersalah
  • Mudah marah dan tersinggung
  • Pandangan hidup yang pesimis
  • Keluhan – keluhan fisik
  • Perasaan negative mengenai tubunhya sendiri
  • Mengingkari kemampuan diri sendiri
  • Mengejek diri sendiri
  • Mencederai diri sendiri
  • Isolasi social
  • Penyalahgunaan zat
  • Menarik diri dari realitas
  • Khawatir
  • Perasaan negative terhadap diri sendiri
  1. Perilaku dengan kerancuan identitas
  • Tidak mengindahkan moral
  • Mengurangi hubungan interpersonal
  • Perasaan kosong
  • Perasaan yang berubah – ubah
  • Kekacauan identitas seksual
  • Kecemasan yang tinggi
  • Tidak mampu berempati
  • Kurang keyakinan diri
  • Masalah hubungan intim
  • Ideal diri tidak realistik

 

  1. Perilaku dengan Depersonalisasi
  2. Afektif
  • Identitas hilang
  • Asing dengan diri sendiri
  • Perasaan tidak aman, rendah diri, takut, malu
  • Perasaan tidak realistic
  • Merasa sangat terisolasi
  1. Persepsi
  • Halusinasi pendengaran dan penglihatan
  • Tidak yakin akan jenis kelaminnya
  • Sukar membedakan diri dengan orang lain
  • Mengalami dunia seperti dalam mimpi
  1. Kognitif
  • Bingung
  • Disorientasi waktu
  • Penyimpangan pikiran
  • Daya ingat terganggu
  • Daya penilaian terganggu
  1. Perilaku

 

  • Afek tumpul
  • Pasif dan tidak ada respon emosi
  • Komunikasi tidak selaras
  • Tidak dapat mengontrol perasaan
  • Tidak ada inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan
  • Menarik diri dari lingkungan
  • Kurang bersemangat

 

  1. C.    Faktor Predisposisi, Faktor Presipitasi, Penilaian Terhadap Stressor, Sumber koping dan Mekanisme Koping
    1. 1.      Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor penunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Faktor yang mempengaruhi harga diri.

Harga diri adalah sifat yang diwariskan secara genetik. Pengaruh lingkungan sangat penting dalam pengembangan harga diri. Faktor-faktor predisposisi dari pengalaman masa anak-anak merupakan faktor kontribusi pada gangguan atau masalah konsep diri. Anak sangat peka terhadap perlakuan dan respon orang tua. Penolakan orang tua menyebabkan anak memilki ketidakpastian tentang dirinya dan hubungan dengan manusia lain. Anak merasa tidak dicintai dan menjadi gagal mencintai dirinya dan orang lain.

Saat ia tumbuh lebih dewasa, anak tidak didorong untuk menjadi mandiri, berpikir untuk dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri. Kontrol berlebihan dan rasa memiliki yang berlebihan yang dilakukan oleh orang tua dapat menciptakan rasa tidak penting dan kurangnya harga diri pada anak. Orangtua membuat anak-anak menjadi tidak masuk akal, mengkritik keras, dan hukuman.

Tindakan orang tua yang berlebihan tersebut dapat menyebabkan frustasi awal, kalah, dan rasa yang merusak dari ketidak mampuan dan rendah diri. Faktor lain dalam menciptakan perasaan seperti itu mungkin putus asa, rendah diri, atau peniruan yang sangat jelas terlihat dari saudara atau orangtua. Kegagalan dapat menghancurkan harga diri, dalam hal ini dia gagal dalam dirinya sendiri, tidak menghasilkan rasa tidak berdaya, kegagalan yang mendalam sebagai bukti pribadi yang tidak kompeten.

Ideal diri tidak realistik merupakan salah satu penyebab rendahnya harga diri.Individu yang tidak mengerti maksud dan tujuan dalam hidup gagal untuk menerima tanggung jawab diri sendiri dan gagal untuk mengembangkan potensi yang dimilki. Dia menolak dirinya bebas berekspresi, termasuk kebenaran untuk kesalahan dan kegagalan, menjadi tidak sabaran, keras, dan menuntut diri. Dia mengatur standar yang tidak dapat ditemukan. Kesadaran dan pengamatan diri berpaling kepada penghinaan diri dan kekalahan diri. Hasil ini lebih lanjut dalam hilangnya kepercayaan diri.

  1. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran

Peran yang sesuai dengan jenis kelamin sejak dulu sudah diterima oleh masyarakat, misalnya wanita dianggap kurang mampu, kurang mandiri , kurang objektif, dan kurang rasional dibandingkan pria. Pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat, kurang ekpresif dibanding wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak seperti lazimnya maka akan menimbulkan konflik didalam diri mapun hubungan sosial. Misalnya wanita yang secara tradisional harus tinggal di rumah saja, jika ia mulai keluar rumah untuk mulai sekolah atau bekerja akan menimbulkan masalah. Konflik peran dan peran yang tidak sesuai muncul dari faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria.

  1. Faktor yang mempengaruhi identitas diri

Intervensi orangtua terus-menerus dapat mengganggu pilihan remaja. Orang tua yang selalu curiga pada anak menyebabkan kurang percaya diri pada anak. Anak akan ragu apakah yang dia pilih tepat, jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka timbul rasa bersalah. Ini juga dapat merendahkan pendapat anak dan mengarah pada keraguan, impulsif, dan bertindak keluar dalam upaya untuk mencapai beberapa identitas. Teman sebayanya merupkan faktor lain yang mempengaruhi identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan, diingikan, dan dimilki oleh kelompoknya.

  1. Faktor yang mempengaruhi gambaran diri

Gambaran diri adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan di modifikasi dengan pengalaman baru setiap individu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 )

Gambaran diri ( body image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan merasa lebih aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri. ( Keliat, 1992 )

Pada anak usia sekolah mempunyai perbedaan citra tubuh dengan seorang bayi, salah satu perbedaan yang menyolok adalah kemampuan untuk berjalan,  dimana hal ini bergantung pada kematangan fisik. Pada masa remaja dengan adanya perubahan hormonal akan mempengaruhi citra tubuhnya misalnya menopause. Pada masa usia lanjut sebagai akibat dari proses penuaan terjadi perubahan penurunan penglihatan, pendengaran, dan mobilitas sehingga hal ini dapat mempengaruhi citra tubuh seorang lansia.

 

  1. 2.      Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi adalah faktor pencetus terjadinya gangguan konsep diri pada setiap orang, jika diatas telah dijelaskan tentang factor presdiposisi atau factor pemicu, kemudian apa bedanya factor presdiposisi dengan factor presipitasi? Factor presdiposisi dapat dikatakan sebagai factor pemicu awal terjadinya suatu gangguan konsep diri kemudian factor presipitasi sebagai peledak masalah awal tersebut. Di bawah ini akan kami jelaskan contoh factor presipitasi yang sesuai dengan factor presipitasi yang telah disebutkan diatas.

  1. Ketegangan peran

adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu dalam peran atau posisi yang diharapkan. Contoh dari faktor pencetus ini adalah ketika suatu ketika seorang anak yang mendapatkan pengharapan yang begitu besar dari orang tuanya untuk menjadi seorang dokter. Si anak sudah mendapatkan tekanan yang luar biasa. Kemudian ketika tes masuk dijalani dan si anak dapat lolos hingga tahap akhir, namun ketika tes pada tahap akhir itu ia gagal. Kegagalan ini dapat menjadi pencetus masalahawal si anak yaitu masalah tekanan dan harapan awal yang telah ia dapatkan dari kedua orang tuanya  sehingga dapat menjadi masalah yang lebih besar.

  1. Konflik peran

ketidaksesuaian peran antar yang dijalankan dengan yang diinginkan. Sesuai yang telah dijelaskan pada factor predisposisi tentang harga diri. Dalam faktor ini dijelaskan bahwa pada mulanya terjadi tekanan kuat yang dilakukan orang tua pada anaknya. Setelah sekian lama tentunya ini menjadi masalah bagi sang anak. Kemudian jika masalah ini tak segera terselesaikan dan sang anak berfikir bahwa apa yang dipaksakan orang tua nya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan,ini dapat menjadi konflik peran pada diri si anak untuk keudian dapat mencetuskan masalah awal menjadi lebih besar.

Selain itu faktor ini juga dapat menjadi faktor pencetus untuk faktor predisposisi  penampilan peran. Ketika dalam suatu kelompok masyarakat yang wanitanya jarang keluar dan dianggap tidak wajar oleh warga sekitar. Tentu orang-orang tersebut mengalami tekanan batin dalam dirinya. Tekanan yang berlarut-larut tanpa adanya penanggulangan dapat mengakibatkan gangguan konsep diri.

  1. Transisi peran sehat – sakit

Faktor ini dapat menjadi poencetus untuk faktor penampilan peran. Itu dapat terjadi karena pada faktor sehat-sakit ini berkaitan erat dengan misalnya kehilangan bagian tubuh ketika mengalami kecelakaan. Baynagkan ketika ada seorang artis yang biasanya tampil anggun dalam setiap penampilannya kemudian mengalami kecelakaan dan kehilangan tangannya. Tentu dia tidak dapat tampil seperti sedia kala. Rasa percaya diri yang berlebih pada mulanya dapat seketika hancur dan sang artis pun dapat mengalami dgangguan konsep diri

  1. Situasi transisi peran

Transaksi peran ini dapat dijelaskan misalnya kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Contohnya ketika kita mendapatkan perhatian yang berlebih dari kedua orang tua kita. Apakah ini termasuk sebuah masalah awal? Tentu saja, hal yang berlebihan itu memang tidaklah baik. Kita menjadi sangat tergantung pada kedua orang tua kita. Suatu ketika orang tua kita tiba-tiba pergi. Itu menjadi guncangan yang besar bagi kita.

  1. 3.      Penilaian terhadap Stressor

Penilaian terhadap stressor gangguan konsep diri adalah cara bagaimana individu itu mempersepsikan ancaman atau stressor. Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino, 2006) Faktor- faktor yang mempengaruhi penilaian individu terhadap stressor yang ia hadapi adalah :

  1. Faktor Individu
    1. Intelektual

Intelektual  berhubungan dengan tindakan dan pikiran kognitif seseorang. Penilaian kognitif bersifat individual differences, yaitu berbeda pada masing-masing individu. Perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor yang membuat penilaian kognitif itu bisa mengubah cara pandang terhadap stres. Stres diubah bentuk menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menghadapi situasi yang stressful, sehingga respon terhadap stressor bisa menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu. Contoh : Ana kehilangan motor kesayanganya, ia memandang ini sebagai peringatan dari Tuhan,agar dia bisa berangkat ke kampus jalan kaki atau naik angkot jadi dia bisa mengurangi sumbangan polusi udara di Kampusnya.

  1. Kepribadian Individu
    • Kepribadian tipe A dan B : Kepribadian A berciri agresif, tidak sabaran, rasa bersaing yang tinggi. Kepribadian tipe ini cenderung mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya stres dibandingkan kepribadian tipe B yang cenderung lebih sabar dan menganggap orang lain sebagai mitra kerja. Contoh :  Dino dihadapkan pada tugas agensinya untuk membuat sebuah proposal, ia adalah orang yang tidak sabaran dan tidak teliti. Satu malam ia paksakan untuk mengerjakan proposal dan kesesokan harinya ia berikan proposal itu pada atasanya. Namun proposal itu ditolak mentah- mentah oleh atasanya. Sementara Dina adalah orang yang sangat sabar dan teliti, ia memikirkan baik- baik proposalnya. Akhirnya proposal Dinalah yang disetujui oleh atasanya. Melihat peristiwa ini muncul rasa stres pada diri Dino karena ia melihat sainganya lebih baik darinya.
    • Kepribadian Introvet  dan Ekstrovet : Kepribadian introvet adalah individu yang memiliki penilaian atau rasa negatif, ia cenderung lebih mudah terkena stress dibanding individu yang berkepribadian ekstrovet yaitu individu yang memiliki rasa penilaian positif. Contoh: Ina sudah berulangkali mengkonsultasikan makalanya kepada dosenya, dan untuk ketiga kalinya makalahnya terdapat banyak coretan. Hal seperti ini dapat menekan pikiran seseorang. Namun orang yang memiliki cara pandang yang baik akan memandang hal ini sebagai sebuah motivasi agar dirinya bisa menjadi lebih baik. Sebaliknya orang yang cenderung berpikir negatif akan berpikir bahwa dosenya sedang mengerjainya atau tidak suka padanya,dsb.
    • Kepribadian Fleksibel dan Rigid : Kepribadian fleksibel adalah orang- orang yang cenderung lebih terbuka pada pengaruh orang lain. Sehingga mendapatkan beban yang berlebihan, dibanding orang berjepribadia rigid, yaitu orang yang lebih tertutup pada pengaruh orang lain.
    1. Faktor Situasi
    • Dukungan dari orang sekitar

    Situasi dukungan sosial orang- orang sekitar akan mempengaruhi bagaimana persepsi seseorang terhadap stressor yang ia hadapi. Fira baru saja mematahkan modemnya. Bagi seorang Fira, yang seorang mahasiswa modem adalah seseuatu yang penting. Ia tidak bisa browsing mencari tugas- tugas. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan apakah membeli lagi atau memperbaikinya. Jika ia akan memperbaiki modemnya, ia tidak tahu dimana tempat servis modem. Sementara jika ia akan membeli lagi, ia tidak punya uang. Ketika itu temanya mendukung ia untuk membeli modem baru lagi. Temanya bahkan menawarkan kepadanya untuk mengantarkanya ke pameran dan menawarkan untuk meminjamkan uang pada Fira. Akhirnya ia menemukan solusi yaitu membeli modem baru lagi.

     

     

          Menurut Lahey (2007),faktor yang mempengaruhi penilaian individu terhadap       stressor adalah :

    1. Pengalaman stres

          Orang yang sudah terbiasa dengan sebuah keadaan yang menyebabkan stres akan memiliki stres yang rendah dibandingkan orang yang belum pernah dihadapkan dengankeadaan yang menyebabkan stres. Contoh : Tina adalah seorang mahasiswa tingkat tiga yang super sibuk dengan tugas- tugasnya dan organisasinya, namun ia dapat menyeimbangkan kedua kesibukan tersebut dan beban tugas serta beban organisasi dianggapnya sebagai rutinitas yang wajar dan tidak ia lebih- lebihkan menjadi sebuah stressor.

     

    1. Faktor Perkembangan

          Usia dan tahap perkembangan mempengaruhi dampak dari stres yang dialami. Orang dewasa akan berpikir lebih hati- hati dan sabar dalam menghadapi masalah, sebaliknya dengan anak muda yang cenderung masih labil. Contoh : Nando ditolak cintanya oleh Mina, karena pola pikirnya dewasa ia hanya menganggap peristiwa itu sebagai angin lalu dan berpikir positif bahwa Mina bukan jodohnya. Sementara Yayan yang masih kekana- kanakan dan usianya lebih muda dari Nandoyang juga cintanya ditolak oleh Mina, langsung mencoba bunuh diri. Dikarenakan pemikiranya masih labil.

    1.  Predictability and Control

          Peristiwa yang menyebabkan stres lebih rendah daripada peristiwa- peristiwa yang dapat diprediksi dan dikontrol oleh individu. Contoh : Pada kesempatan pertama, seseorang mengikuti perlombaan pidato di tingkat Provinsi Jawa Tengah dan ia gagal mendapatkan juara I , sementara rival bebuyutanya menyabet juara I. Namun pada waktu itu ia dapat mengkondisikan dirinya agar tidak down, lalu ia memberi selamat pada rivalnya. Sementara di lain kesempatan ia mengikuti lomba pidato ditingkat Kota, ternyata ia gagal juga. Ia akan berpikir lapang, karena sewaktu ia kalah di tingkat provinsi saja ia bisa mengontrol dirinya untuk tidak down, apalagi setingkat Kota, harusnya ia bisa lebih mengontrol dirinya.

     

    1. Dukungan Sosial

          Dukungan dari keluarga dan orang terdekat dapat menjadi sebuah buffer untuk menangkal stres. Contoh : Fira baru saja mematahkan modemnya. Bagi seorang Fira, yang seorang mahasiswa modem adalah seseuatu yang penting. Ia tidak bisa browsing mencari tugas- tugas. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan apakah membeli lagi atau memperbaikinya. Jika ia akan memperbaiki modemnya, ia tidak tahu dimana tempat servis modem. Sementara jika ia akan membeli lagi, ia tidak punya uang. Ketika itu temanya mendukung ia untuk membeli modem baru lagi. Temanya bahkan menawarkan kepadanya untuk mengantarkanya ke pameran dan menawarkan untuk meminjamkan uang pada Fira. Akhirnya ia menemukan solusi yaitu membeli modem baru lagi.

    1. 1.      Sumber Koping

    Menurut Lazarus, 5 sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor antara lain :

    1. Ekonomi

    Dengan kecukupan ekonomi yang ada, individu dapat mengatasi stressor yang datang dengan menyenangkan hatinya sendiri dengan hal-hal yang dia suka.

    1. Ketrampilan dan kemampuan

     

    Kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah berbeda-beda. Ini dikarenakan latar belakang dari masa lalu yang secara tidak langsung memberikan ketrampilan dan kemampuan pada individu dalam menyelesaikan masalah

    1. Teknik pertahanan

    Pertahanan individu terhadap datangnya stressor berbeda-beda. Sebagian individu akan menerima stressor dengan santai, seperti menjalani hidup sehari-hari seperti biasanya. Tetapi banyak juga orang yang sangat terbeban atas stressor yang dihadapi

    1. Dukungan Sosial

    Dukungan dari orang terdekat seperti keluarga, sahabat dan teman-teman akan membangkitkan semangat dan tidak berputus asa lagi

    1. Motivasi

    Motivasi dari orang-orang terdekatnya akan member dorongan kepada individu yang menghadapi stressor dari pihak lain.

     

    Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman terhadap pengaruh gangguan otak       pada perilaku. Kekuatan dapat meliputi seperti model intelengensia/kreatifitas yang tinggi.

    Orang tua harus secara aktif mendidik anak dan dewasa muda tentang ketrampilan koping, karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, financial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan (Stuart & Sundeen, 1998)

    Menurut Stuat dan Sundeen (1998 : 349), contoh sumber koping yang berhubungan dengan respon social maladaptive:

    1. Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman

    Ini dapat membuat individu lebih nyaman berada di sekitar keluarga dan teman, sehingga individu dapat menyampaikan apa hal yang membebaninya serta ia dapat melupakan sejenak masalahnya ketika bersama orang-orang terdekatnya.

    1. Hubungan dengan hewan peliharaan

    Ketika seseorang bersama hewan peliharaan kesayangannya, ia akan melupakan masalahnya sejenak dan bersenag-senang dengan hewannya tersebut. Ia juga bisa melampiaskan hal yang membebaninya kepada hewannya itu.

    1. Gunakan kreatifitas untuk mengekspresikan stess interpersonal seperti kesenian, music dan tulisan

    Media lain selain kita mengungkapkan kepada orang lain ketika kita menghadapi masalah adalah dengan menyalurkan pada kesenian yang disukai. Ketika itu, energi negative kita akan tersalurkan pada hal yang kita lakukan, sehingga mengurangi beban masalah individu.

     

    1. .      Mekanisme Koping
      1. Pengertian Mekanisme Koping

          Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan        masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi        yang mengancam (Keliat, 1999).

          Menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.

          Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku.

    1. Macam-Macam Mekanisme Koping

          Ada tiga macam mekanisme koping, antara lain :

    1.)    Mekanisme jangka pendek

    • Aktifitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas, misalnya main musik, bekerja keras, menonton televise
    • Akltifitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara, misalnya ikut dalam aktifitas social, keagamaan
    • Aktifitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri, misalnya olah raga yang kompetitif, pencapaian akademik / belajar giat.
    • Aktifitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu, misalnya penyalahgunaan obat.

    2.)    Mekanisme jangka panjang

    • Penutupan identitas yaitu adapsi identitas pada orang yang menurut klien penting, tanpa memperhatikan kondisi dirinya.
    • Identitas negatif yaitu klien beranggapan bahwa identifikasi yang tidak wajar akan diterima masyarakat.

    3.)    Mekanisme pertahanan ego

    Mekanisme pertahanan ego sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. Macam-macam mekanisme pertahanan ego antara lain:

                                                                    a.)            Kompensasi

    Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.

    Misal : seseorang tidak pandai matematika, berusaha menonjolkan keahliannya di bidang seni.

                                                                       b.)         Penyangkalan (denial)

    Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.

    Misal : seseorang yang baru putus dengan pacarnya berusaha menghindari pembicaraan mengenai pacar.

                                                                       c.)         Pemindahan (displacement)

    Pengalihan emosi yang semula ditujukan pada seseorang/benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.

    Misal : seseorang yang bertengkar dengan temannya, dirumah justru marah-marah terhadap adiknya.

                                                                      d.)         Disosiasi
    Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya.

    Misal : seseorang yang marah-marah dan mengamuk ternyata tidak bisa menjelaskan kembali apa yang terjadi (karena ia lupa sama sekali)

                                                                       e.)         Identifikasi (identification)

    Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran, perilaku dan selera orang tersebut.

    Misal : seseorang mengidolakan Giring Nidji, maka dia akan berusaha menirunya.

                                                                        f.)         Intelektualisasi (intelectualization)

    Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.

                                                                       g.)         Introjeksi (Introjection)

    Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil dan melebur nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri, merupakan hati nurani.

    Seseorang berusaha mentaati semua norma dan peraturan yang ada di masyarakat sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar.

    Misal : kekecewaan atas kematian orang yg dicintai dialihkan dg cara menyalahkan diri sendiri.

                                                                       h.)         Isolasi
    Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka lama.

    Misal : seseorang punya masalah, tapi tidak mau memikirkan masalah tersebut.

                                                                         i.)         Proyeksi
    Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.

    Misal : seseorang menyangkal bahwa ia menyukai temannya, berbalik menuduh bahwa temannya itu berusaha merayunya.

                                                                         j.)         Rasionalisasi
    Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan/membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima.

    Misal : seorang murid yang mendapat nilai buruk ketika ditanya orang tuanya justru menyalahkan cara mengajar gurunya.

                                                                       k.)         Reaksi formasi

    Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari, yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan atau ingin lakukan.

    Misal : seseorang yang menyukai teman suaminya akan memperlakukan teman suaminya dengan kasar.

                                                                         l.)         Regresi
    Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini.

    Misal : seseorang yang sudah dewasa, karena ada masalah, justru menjadi seperti anak kecil kembali.

                                                                     m.)         Pemisahan (splitting)

    Sikap mengelompokkan orang / keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif di dalam diri sendiri.

    Misal : seseorang memandang kelompok A buruk, dan kelompok B baik, selamanya menganggap seperti itu, padahal tidak selamanya yang buruk tetap buruk dan sebaliknya.

                                                                       n.)         Sublimasi
    Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.

    Misal : penyaluran impuls agresif ke olah raga atau kegiatan yang bermanfaat.

                                                                       o.)         Supresi
    Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari; pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang; kadang-kadang dapat mengarah pada represi yang berikutnya.

                                                                       p.)         Undoing
    Tindakan/ perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/ perilaku atau komunikasi sebelumnya; merupakan mekanisme pertahanan primitif.

    Misal : seorang ibu yang menyesal telah memukul anaknya beralih memperlakukan anaknya penuh kasih sayang.

                                                                       q.)         Represi
    Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.

    Misal : suatu pengalaman traumatis menjadi terlupakan.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

    1. KESIMPULAN

    Gangguan konsep diri adalah sebuah gangguan dalam diri individu yang memunculkan perasaan dan pikiran negatif. Atau belum mampunya ia mengenali dirinya sendiri. Kepribadian yang sehat akan ikut serta mempengaruhi baik buruknya konsep diri seseorang. Faktor lain yang menjadi penyebab dan pemicunya antara lain meliputi harga diri dan trauma. Ketika seseorang itu menderita gangguan konsep diri maka ia akan sulit menerjemahkan atau menilai stressor itu menjadi positif. Maka dibutuhkan suatu sumber dan mekanisme koping yang tepat.

     

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s